Sabtu, 30 Oktober 2010

Materialisme


MATERIALISME
A. Latar Belakang
MATERIALISME adalah paham ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis.
Adalah Karl Marx (1818-1883) tokoh utama yang mengaitkan filsafat dengan ekonomi. Dalam pandangannya, filsafat tidak boleh statis, tetapi harus aktif membuat perubahan-perubahan karena yang terpenting adalah perbuatan dan materi, bukan ide-ide (hal ini berbeda dengan Hegel). Manusia selalu terkait dengan hubungan-hubungan kemasyarakatan yang melahirkan sejarah. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat, yang beraktivitas, terlibat dalam suatu proses produksi. Hakikat manusia adalah kerja (homo laborans, homo faber). Jadi, ada kaitan yang erat antara filsafat, sejarah dan masyarakat. Pemikiran Karl Marx ini kemudian dikenal dengan Materialisme Historis atau Materialisme Dialektika.
Pandangan Karl Marx di atas mendapat reaksi yang beragam-ragam di Indonesia. Mengapa? Karena materialisme adalah ajaran Marxisme, yang pada dasarnya memiliki pemikiran sejalan dengan positivisme. Sesungguhnya perintis pemikiran ini bukan hanya Karl Marx, tetapi juga Friedrich Engels (1820-1895). Mereka berdua banyak mendapat inspirasi (terutama metode dialektikanya) dari filsuf Jerman yang sangat berpengaruh, yaitu GWL Hegel (1770-1831). Marx adalah tokoh pertama yang mengaitkan filsafat dengan ekonomi. Dalam perspektifnya, filsafat tidak boleh statis, tetapi harus aktif membuat perubahan-perubahan karena yang terpenting adalah perbuatan dan materi, bukan ide-ide (hal ini berbeda dengan Hegel). Jalan pemikiran Karl Marx tersebut menjelaskan pandangannya tentang teori pertentangan kelas, sehingga pada perkembangan berikutnya melahirkan komunisme.
Dalam realitas, Marxisme adalah suatu gagasan yang menarik untuk dicermati dari sudut pandang sains oleh kaum intelektual dan mahasiswa. Namun bagi pemerintah dan mayoritas bangsa, Marxisme adalah ajaran sesat dan tak bermoral yang bertentangan dengan ideologi negara kita Pancasila, dan UUD 1945. Kuatnya indoktrinasi pemerintah di era orde baru menyebabkan sejumlah intelektual dan mahasiswa hanya mempercakapkannya dalam area kampus. Itu pun hanya semata-mata dalam perspektif Marxisme sebagai gagasan dalam konteks sains. Namun, sulit untuk memungkiri bahwa gagasan-gagasan kaum mahasiswa di era orde baru yang bernyali berteriak lantang memprotesi berbagai kebijakan pemerintah yang konon katanya sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme, dan kuatnya peranan militer (militerisme) dalam mengamankan legitimasi kepemimpinan Orde Baru di pundak Presiden Soeharto, boleh dapat dikatakan bernafaskan roh atau jiwa dari gagasan Marxisme. Argumen ini mengemuka karena pada era itu yang menjadi value demokrasi Indonesia adalah musyawarah untuk mufakat, bukan demonstrasi, apalagi people power.
Dan yang dibahas dalam makalah ini adalah tentang Materialisme Historis dengan berbagai sejarah pandangan filsafat dunia yaitu Hegel dan Karl Marx dan Engels yang diperpadukan dalam pendapat serta pemahaman seorang tokoh marxisme asal Indonesia, yaitu Tan Malaka.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Materialisme Dialektika
Dialectique, dialectica, dialectike semuanya berasal dari bahasa Latin yang dijelaskan sebagai seni berdebat dan berdiskusi, yang kemudian diturunkan sebagai kebenaran dengan jalan diskusi.
Dialektika ketika sampai di zaman Hegel dikonsepsikan bahwa dalam realitas ini tidak ada lagi bidang-bidang yang terpisah atau terisolasi. Semuanya saling terkait dalam satu gerak penyangkalan dan pembenaran. Dalam tinjauan lain, dialektika berarti sesuatu itu hanya berlaku benar apabila dilihat dengan keseluruhan hubungan dalam relasi yang bersifat negasi-dialektis (teas-antitesa-sintesa).
Dalam mata filsafat dialektika, terutama para penganut materialisme dialektik Marx dan Engels menganggap bahwa dalam realitas ini tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri untuk selamanya, tidak ada sesuatu yang mutlak dan suci seperti yang dimetafisikakan oleh Hegel dengan sebutan “roh absolut”. Lebih mendetail J.W. Stalin dalam Buku “Materialisme Dialektika dan Histori” menerangkan dua prinsip pokok dari dialektika Marxis. Pertama, dialektika Marxis berlawanan dengan metafisika. Dialektika Marxis tidak memandang alam sebagai suatu tumpukan segala fenomena atau tumpukan fenomena yang kebetulan saja, tidak berhubungan dan bebas satu sama lainnya. Namun semua fenomena alam sebagai realitas yang organik satu statis lainnya. Kedua, berbeda dengan metafisika, dalam konsepsi dialektika berpendapat bahwa alam bukanlah satu keadaan yang statis namun realitas yang terus menerus bergerak dan berubah, rontok, mati dan tumbuh kembali. Ketiga, dialektika juga menerangkan proses perkembangan bukanlah suatu proses pertumbuhan yang sederhana, di mana perubahan – perubahan kuantitatif akan menuju perkembangan yang terbuka ke arah perubahan yang kualitatif.
Berkaitan dengan penjelasan hukum dialektika, Tan Malaka menerangkan dalam Madilog (Materialisme, dialektika, logika) dengan membedakannya dengan logika yang berisi hukum berpikir logis. Logika adalah metode berpikir untuk menetapkan suatu identitas. Dimana wilayah kerja logika adalah ketika berhadapan dengan satu persoalan yang sederhana yang hanya membutuhkan jawaban ‘ya’ dan ‘tidak’. Dimana logika ‘ya’ adalah ‘ya’ dan ‘ya’ adalah “bukan tidak”. Hukum keduanya tidak bisa dicampuradukkan. Hukum yang lazim dipakai logika dalam pengertian ini adalah A = A. Sedangkan A bukan non A (tidak A).
Beberapa hukum pokok dialektika juga diutarakan Tan Malaka dalam beberapa persoalan berikut contohnya dalam kehidupan sehari – hari, yaitu :
1. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan waktu.
2. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan perpaduan di luar dirinya.
3. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan hukum kontradiksi.
4. Hukum dialektika selalu berkaitan dengan gerak.
Melawankan hukum dialektika idealis milik Hegel dengan dialektika milik Karl Marx dan Engels, Tan Malaka tampak menaruh keberpihakan jelas terhadapnya. Keberpihakan yang sangat ideologis sehingga tampak sebagai penjabaran dogma secara rasional, tanpa kritisisme tertentu. Disebutkannya, bagi Marx Dialektika itu bukanlah semata-mata hukum gerakan pikiran sebagai cermin realitas, melainkan hukum kebenaran berpikir ketika bertitik tolak dari benda yang sebenarnya. Adanya hukum pertentangan dan perpaduan sendiri juga diakui oleh Marx dan Engels, cuma dalam pengertian sebagai perjuangan tabpa damai dua benda nyata, pertentangan dua kelas dalam masyarakat. Pertentangan dalam masyarakat itu antara kelas yang berpunya yang ditentukan oleh corak produksi masyarakatnya. Dengan adanya kemajuan teknik dalam corak produksi masyarakat yang membuat orang kaya dan berkuasa semakin bertambah kaya dan kuasa. Sedangkan di pihak yang miskin dan tak kuasa semakin terpuruk dalam lembah yang miskin dan tak ada kuasa. Perpaduan baru sintesis ini berupa “hak milik bersama” atas alat-alat produksi yang menghasilkan bagi “kemakmuran bersama”. Sistesis inilah yang kemudian membayang dalam otak sebagai suatu yang bertolak dari realitas objektif (materialisme). Selanjutnya politik dan instrumen operasional lainnya dilaksanakan sepenuhnya untuk membuat masyarakat baru berdasarkan “hak milik bersama”, masyarakat yang dikendalikan oleh kelas tak berpunya (sosialisme) sampai terbentuknya masyarakat tanpa kelas seperti yang dicita – citakan (komunisme).
B. Materialisme Historis (Hukum Objektif Sejarah)
Materialisme historis dipahami sebagai perluasan prinsip­-prinsip materialisme dialektik pada anahsis mengenai kehidupan masyarakat, atau pengeterapan prinsip-prinsip materialisme dialektik pada gejala kehidupan masyarakat. Bertolak dari proposisi bahwa yang terpenting dari filsafat adalah bukan hanya bongkar pasang makna tentang dunia namun bagaimana merubah kenyataan dunia, Karl Marx meneruskan konsistensi pemikirannya pada kasus hukum dialektika sejarah dalam masyarakat manusia. Dalam materialisme historis, Marx menjabarkan secara ilmiah mata rantai kelahiran, perkembangan dan kehancuran sistem masyarakat beserta kelas-kelas sosial dalam suatu kurun sejarah.
Marx menfokuskan pada tinjauan objektif atas corak~ produksi masyarakat sebagai struktur dasar masyarakat. Hubungan corak produksi yang melibatkan keselarasan antara aktivitas masyarakat berikut bahan-bahan dan perkakas yang ada sebagai basis material (faktor determinan) pembentuk sistem ekonomi masyarakat dan struktur sosial di dalamnya termasuk manivestasi hukum, politik, estetika dan agama. Totalitas produksi inilah yang menyusun masyarakat sekaligus menjadi landasan tempat berpijak struktur-atas politik berdixi dengan pongah. Sampai pada puncak perkembangannya, ketika suatu sistem produksi yang ada mengandung kontradiksi yang melibatkan pertentangan kekuatan- kekuatan produktif dalam masyarakat––kelas tanpa modal versus kelas bermodal–maka hukum sejarah berlaku dialektik. Yakni perubahan yang sesuai dialektika hukum objektif, di mana masyarakat bawah yang terperas dan terhisap akan melakukan perombakan secara revolusioner sebagai anti-tesa sistem lama menuju sistesa dalam masyarakat baru yang diperjuangkan sendiri semua kaum tertindas (proletariat).
Lenin berpendapat, dengan ditemukannya konsepsi materialisme historis, ia telah mengatasi dua kelemahan pokok dari teori-teori sejarah terdahulu. Pertama, mereka paling hanya meneliti motif-motif ideologis dari aktivitas sejarah manusia, tanpa menyelidiki apa yang melahirkan motif-motif tersebut dan Vna berpegang pada hukum-hukum objektif yang menguasai perkembangan sistem hubungan sosial. Mereka juga tidak melihat akar-akar dari hubungan-hubungan pada tingkat perkembangan produksi materi. Kedua, teori-teori sejarah terdahulu tidak meliputi tinjauan aktivitas masyarakat dalam berbagai aspek corak-corak produksi dan perkembangannya. Sedang materialisme historis Marx meninjau keadaan objektif sosial dan perubahan dalam hukum dialektikanya dengan tingkat akurasi yang hampir menyamai ilmu-ilmu alam. Dalam materialisme historis, Marx menunjukkan hukum-hukum objektif perkembangan masyarakat, menjelaskan secara objektif kelahiran, perkembangan dan kehancuran suatu sistem masyarakat. Secara akurat la juga menyatakan bahwa pencipta sejarah sebenarnya adalah massa rakyat kelas pekerja, bukan individu istimewa macam raja, bangsawan atau pahlawan

























BAB III

MATERIALISME KEBUDAYAAN
A. Hakikat Materialisme Kebudayaan
Materialisme didasarkan pada konsep bahwa dunia ini terdiri dari objek-objek materi yang berinteraksi dan berpotongan satu sama lain dalam berbagai keadaan, baik tetap maupun bergerak. Kaum materialis memandang manusia sebagai materi, realitas konkret, bersama dengan produk-produk pikiran manusia dan perilaku manusia, yang terdiri dari objek-objek fisik seperti peralatan dan benda-benda, dan produk pikiran seperti teknologi, ilmu pengetahuan, pengetahuan, nilai-nilai, hukum, agama, dan kebudayaan.
Daya tarik terbesar materialisme pada masa kini adalah pendekatannya yang sesuai dengan prinsip-prinsip teori dan metode ilmiah, yang berlandaskan pada data empiris untuk mendukung dan memverifikasi hipotesis-hipotesis dalam ilmu-ilmu social.Materialisme kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari nama Marvin Harris. Materialisme kebudayaan didasarkan pada konsep bahwa kondisi-kondisi materi masyarakat menentukan kesadaran manusia, dan bukan sebaliknya. Harris sangat dipengaruhi gagasan Marxis tentang basis (base) dan suprastruktur (superstructure). Ia menyebut basis sebagai “infrastruktur”. Ia memodifikasi skema Marxis dengan memasukkkan unsur reproduksi manusia ke dalam basis (infrastruktur), bersama-sama dengan mode ekonomi dari produksi. Selain itu, ia juga mengusulkan suatu kategori “antara” (intermediate category), yakni struktur (structure), di antara basis dan suprastruktur, suatu kategor yang tidak terdapat dalam skema Marxis.
Harris memandang ketiga kategori tersebut, yaitu basis, struktur, dan suprastruktur, sebagai fenomena etik. Artinya ketiga kategori tersebut dapat ditemukan oleh ahli ilmu sosial yang menelitinya sebagai ilmuwan. Suprastruktur mengandung fenomena etik maunpun emik. Fenomena emik adalah komponen mental dalam pikiran orang-orang yang merupakan anggota suatu kebudayaan atau masyarakat, yang memandang diri mereka sendiri dan dunia dari perspektif spesifik mereka sendiri, atas dasar nilai-nilai, pengetahuan, dan sikap yang dipelihara dalam kebudayaan. Bahasa adalah suatu kategori yang terpisah dari semua kategori lainnya, yang menurut Harris berperan sebagai instrumen untuk mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan basis, struktur, dan suprastruktur. Karena itu, bahasa memberikan suplai dan termasuk ke dalam ketiga kategori, karena semua perilaku sosial manusia berimplikasi terhadap penggunaan bahasa.
Materialisme kebudayaan Harris dilandasi Marx, tetapi berbeda dari Marxisme ia sangat menganjurkan agar memberikan prioritas bagi suatu strategi penelitian yang terdiri dari: berawal dari kajian mengenai basis (infrastruktur), kemudian struktur, dan akhirnya suprastruktur. Perbedaan yang lain antara Marxisme dan materialisme kebudayaan adalah materialisme kebudayaan mengemukakan hipotesis bahwa peilaku manusia dikontrol oleh persyaratan kebutuhan protein, energi, atau faktor-faktor alamiah lainnya. Metodologi materialisme kebudayaan terletak pada metode ilmiah dan aturan-aturannya dalam menghimpun data, memverifikasi hipotesis, dan mengembangkan analisis logika dan pembuktian yang tepat.
Prinsip umum yang harus dipegang mengenai Materialisme Kebudayaan adalah “budaya dikembangkan oleh suatu masyarakat berdasarkan pada materi (benda) yang dimilikinya”. Selain itu, Materialisme Kebudayaan berbanding lurus dengan benda-benda yang dimiliki suatu masyarakat dalam suatu wilayah tertentu dan kebudayaan berkembang seiring dengan berkembangnya pemikiran manusia.
B. Prinsip – Prinsip Materialisme Kebudayaan
Struktur universal sistem sosial budaya yang dikonsepsikan oleh materialisme kebudayaan terletak pada konstanta biologi dan psikologi dari hakikat alamiah manusia, dan pada pembedaan antara pikiran dan perilaku, emik, dan etik. Pertama, setiap masyarakat harus menghadapi masalah produksi. Kedua, setiap masyarakat harus menghindari masalah reproduksi, menghindari peningkatan atau pengurangan jumlah dan ukuran penduduk yang bersifat menganggu atau merusak. Ketiga masyarakat harus menghadapi masalah perlunya memelihara hubungan-hubungan perilaku yang teratur dan aman di kalangan kelompok-kelompok penyusunnya dan dengan masyarakat lainnya. Keempat, anggaplah pentingnya bahasa dan proses simbolik bagi psike manusia, orang dapat menyimpulkan adanya keberulangan universal dari perilaku produktif yang menuju kepada produk dan servis etik, erekreasi, sportif, dan estetik.
Kategori-kategori perilaku etik utama bersama dengan beberapa contoh fenomena sosial budaya yang termasuk ke dalam setiap domain (ranah) adalah :
v Mode Produksi
Teknologi dan praktik-praktik yang digunakan untuk memperluas atau membatasi produksi subsistensi dasar, khususnya produksi makanan dan bentuk-bentuk energi lainnya. Perhatikan misalnya hambatan dan kesempatan yang timbul karena interaksi teknologi spesifik tertentu dengan habitat tertentu.
§ Teknologi subsistensi
§ Hubungan tekno-lingkungan
§ Ekosistem
§ Pola-pola kerja
v Mode Reproduksi
Teknologi dan praktik-praktik yang diterapkan untuk memperluas, membatasi, dan mempertahankan ukuran populasi.
§ Demografi
§ Pola-pola perkawinan
§ Fertilitas, natalitas, dan mortalitas
§ Pengasuhan anak
§ Pengendalian medis atas pola-pola demografi
§ Kontrasepsi, aborsi, infantisida.
v Ekonomi Domestik
Pengorganisasian reproduksi dan produksi dasar, tukar-menukar, dan konsumsi dalam rumah tangga, apartemen, atau tatanan domestik lainnya.
§ Struktur keluarga
§ Pembagian kerja domestik
§ Sosialisasi domestik, enkulturasi, pendidikan
§ Peranan usia dan jenis kelamin
§ Displin domestik, hierarki, sanksi.
v Ekonomi Politik
Pengorganisasian reproduksi, produksi, pertukaran dan konsumsi dalam dan di antara band-band, desa-desa, chiefdoms, negara, dan kerajaan.
§ Organisasi politik, faksi, klub, asosiasi, korporasi
§ Pembagian kerja, pajak, dan pungutan
§ Sosialisasi politik, enkulturasi, pendidikan
§ Kelas, kasta, hierarki kota-desa
§ Displin, kontrol polisi/tentara
§ Perang
v Suprastruktur Perilaku
§ Seni musik, tari-tarian, sastra, periklanan
§ Ritual
§ Olahraga, permainan, hobi
§ Ilmu pengetahuan
Marvin Harris dapat menyederhanakan kategori-kategori di atas dengan menghubungkan mode produksi dan reproduksi bersama di bawah rubrik infrastruktur, dan menggabungkan ekonomi domestik dan ekonomi politik di bawah rubrik struktur. Maka, terbentuklah skema tripartit sebagai berikut :
Infrastruktur (produksi dan reproduksi)
Sturktur (ekonomi domestik dan ekonomi politik)
Suprastruktur (suprastruktur perilaku)
C. Kritik Terhadap Materialisme Kebudayaan
Materialisme Kebudayaan dikritik terutama karena konsentrasinya pada infrastruktur sehingga tampak mengecilkan arti penting ideologi dan kegiatan politik sebagai kekuatan perubahan (determinisme Infrastruktur). Terhadap kritik ini, Harris mengatakan bahwa ia tidak dapat menolak peranan aktivisme politik dalam mengubah sistim sosial. Ia juga memandang ideologi memiliki peran dalam proses percepatan atau perlambata bagi perubahan dalam infrastruktur. Namun, ia menegaskan bahwa apabila kondisi-kondisi dalam infrastruktur tidak matang, maka tidak akan ada aktivisme politik yang embawa perubahan.
















BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
MATERIALISME paham ajaran yang menekankan keunggulan faktor-faktor material atas yang spiritual dalam metafisika, teori nilai, fisiologi, epistimologi atau penjelasan historis. Ada beberapa macam materialisme, yaitu materialisme biologis, materialisme parsial, materialisme antropologis, materialisme dialektis, dan materialisme historis.
B.Saran
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan-kekurangan yang perlu kita perhatikan secara bersama, terutama bagi si pembaca, kami sangat mengharapkan sebuah kritikan atau saran demi kepentingan makalah ini. Yang sifatnya tidak lain hanyalah untuk membangun atau melengkapi makalah ini menjadi lebih baik seperti yang kita harapakn.







DAFTAR PUSTAKA
- Bakker, J.W.M. Filsafat Kebdayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta : Kanisius. 1984.
- Havilland, William A. Antropologi. Jakarta : Erlangga. 1995.
- Kessing, Roger M. Antropologi Budaya : Suatu Perspektif Kontemporer Jilid II. Jakarta : Erlangga. 1992.
- Saifudin, Achma Fedyani. Antropologi Kontemporer : Suatu Pendekata Terhadap Realitas Sosial. Jakarta : Rajawali Press. 1993.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar